Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Ekologi

October 5, 2008

Pelestarian Alam[1]

 

 

Akhir-akhir ini banyak dibicarakan tentang pelestarian alam, bukan hanya di tingkat internasional, tetapi juga di tingkat local. Hal itu dapat kita pahami karena dampaknya meliputi seluruh negara, benua bahkan seluruh semesta alam. Dampak negatifnya juga tidak mengenal perbedaan ras, suku, bangsa, bahasa, adat, budaya, dan agama. Membicarakan pelestarian alam yang biasa disebut sekarang ini dengan istilah ‘ekologi’ dan ‘lingkungan hidup’ berarti kita membahas kepentingan bersama.

Masalah lingkungan hidup sebenarnya bukan lagi masalah baru karena sejak penciptaan itu telah ada. Sebelum manusia diciptakan Tuhan, segala sesuatu di alam semesta demi keseimbangannya telah disediakan. Daratan dan lautan, siang dan malam, musim kemarau dan musim hujan, tumbuh-tumbuhan dan burung-burung, penghuni daratan dan air/lautan telah diatur sedemikian rupa. Segala sesuatu tidak berdiri sendiri.

Tuhan Allah menyelamatkan manusia dan hewan (Mzr. 36:7). Tanpa tumbuh-tumbuhan hewan pasti punah. Lembu dan keledai musuh pun harus diselamatkan (Kel. 23:4-5). Lembu dan keledai harus diberi cuti (Kel 23:12). Kalau orang menemukan sarang burung yang berisi telur/anak burung, itu harus diselamatkan.

Orang yang berada dalam perang pun tidak dapat menebang pohon-pohonan untuk pertahanan, kecuali pepohonan yang tidak menghasilkan buah (Ul. 20:19-20). Tuhan menyediakan pohon yang menghasilkan buah, yang daunnya tidak layu, menjadikan padang berumput dengan air yang tenang bagi kita (Mzm. 1:3; 23).

Mari kita perhatikan keberadaan manusia, hewan/binatang, tanam-tanaman, hujan, sungai, danau/laut, semuanya mempunyai keterkaitan satu sama lain. Binatang menjadi penyebar bibit tumbuh-tumbuhan, hujan membasahinya, sungai mengalirkan air yang berlebihan ke laut, laut/danau memberikan uap yang akhirnya menjadi hujan. Itulah  teologia keterkaitan. Manusia dijadikan Tuhan selaku pengelola utama untuk ciptaan lainnya, dan harus mempertanggungjawabkannya.

Dalam Perjanjian Lama dianggap bahwa kekeringan, sumur kering merupakan simbol hukuman. Banjir dianggap malapetaka. Oleh sebab itu, manusia harus menjaga lingkungan hidupnya. Sebaliknya air kehidupan dan pohon merupakan berkat (Why. 21:6; 22:2).

Melestarikan lingkungan hidup dapat kita lakukan dengan berbagai cara: Jangan merambah hutan dengan sewena-wena; menanam tumbuh-tumbuhan/pohon sebanyak mungkin. Pepatah kuno Inggris masih relevan, yang mengatakan,

 

      “He who plants trees, loves others beside himself.              Artinya:

      Barangsiapa menanam pepohonan, ia mengasihi orang lain di           samping mengasihi diri sendiri.

 

Sebaiknya supaya ladang yang luas mempunyai beberapa pohon di atasnya, apakah di sudut atau di tengah ladang. Mari kita membuang hobbi menembak burung; jangan membuang sampah yang bukan pada tempatnya; pekarangan/ladang harus bebas plastik; tidak membakar plastik.

Ada baiknya jika pemerintah cq Departemen Lingkungan hidup memberi penghargaan kepada penduduk yang memperhatikan lingkungan hidupnya, yang pekarangannya ikut memberi kenyamanan, biarpun dengan penghargaan yang sederhana. Mereka yang bertugas selaku pegawai pemerintah yang telah memperhatikan pelestarian alam, biar pun tidak menonjol betul dapat juga dihargai. Kami sebut hanya contoh kecil, namun cukup berarti: Jalan Propinsi di daerah Simalungun – dari Tebingtinngi ke Prapat – yang ditanami dengan pepohonan pada masa pemerintahan Bupati JP Silitonga, demikian juga tanam-tanaman/pepohonan di Kodya Siantar pada masa Walikota Zulkifri. Biarpun mereka telah meninggal, tetapi usahanya dalam pelestarian alam perlu dihargai. Hal itu sekaligus mendidik para pejabat yang ada sekarang dan mendatang. Tentu masih banyak contoh yang lain yang dapat kita hargai.

Belum terlambat, pemerintah perlu memperhatikan adanya “hutan kota”. Pelebaran jalan dengan tidak menebang semua pohon yang telah besar. Bila perlu membuat kerja bakti sekali sebulan khusus membersihkan parit di lingkungannya masing-masing. Membuat simbol-simbol pelestarian alam, bila perlu disayembarakan.

Pelajaran tentang ekologi/pelestarian alam sudah selayaknya  dimasukkan dalam kurikulum  sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

Mari kita semua melestarikan lingkungan hidup kita sekaligus demi kepentingan bersama dan alam semesta.


[1] Bahan ini adalah garis-garis besar  Ceramah yang telah disampaikan dalam beberapa lokakarya dan sidang-sidang gerejawi

HAM

October 5, 2008

 

 

HAK‑HAK ASASI MANUSIA

DITINJAU DARI INJIL [1]

 

Hak-hak Asasi Manusia (HAM) telah digariskan di Inggris dan Perancis pada abad 18. Perserikatan Bangsa-Bangsa merumuskannya 10 Des. 1948, sejak itu timbullah usaha memajukan HAM.

     Kita terlebih dahulu membuat batasan HAM dari segi Injil. “Injil” meliputi seluruh Alkitab mengingat Injil adalah berita keselamatan. Istilah HAM tidak kita temukan dalam Alkitab. Namun, HAM itu masih dapat ditinjau dari segi Injil, karena hanya istilahnya yang berbeda. HAM ada pada martabat manusia karena HAM pemberian Allah sejak manusia diciptakan-Nya. Sejarah HAM seumur dengan sejarah manusia.

   Tanpa teori mengenai HAM, HAM telah ada. Masalahnya, manusia sering tidak sadar adanya HAM pada dirinya sendiri. Kita sering kurang menghargainya. Sekiranya semua berjalan dengan baik, kita tidak perlu membahasnya lagi, namun karena HAM itu sudah mulai “luntur,” maka timbullah perhatian khusus atas HAM, dan itu seakan‑akan “barang” baru bagi kita.

   Berbicara tentang HAM tidak terlepas dari membicarakan hak‑hak yang ada di luar manusia. Hal ini perlu kita sadari agar tidak salah pakai pada HAM itu. Kita tidak terlepas dari lingkungan. Manusia tidak hidup sendirian. Semua ciptaan bersumber dari Firman Allah dan mempunyai haknya. Bumi, hewan, tumbuh‑tumbuhan pun menerima haknya dari Penciptanya. Itulah sebabnya ada istilah: Hak Asasi Bumi; Hak Asasi Binatang. Hak‑hak yang diterima masing‑masing tidak sama, tergantung pada perbedaan penciptaannya. Dari seluruh ciptaan Tuhan manusialah yang mempunyai martabat yang tinggi karena diciptakan menurut gambar Allah (imago dei, Kej. 1:27).

Semua hak yang diberikan kepada manusia, bumi, hewan, tumbuh‑tumbuhan, dan lain‑lain adalah untuk saling membantu, agar terdapat “damai di tengah‑tengah ciptaan.”  Yesaya telah menubuatkan kedatangan Mesias yang akan membuat kedamaian antara binatang, tumbuh-tumbuhan, dan manusia, serta seluruh ciptaan lainnya (11:1‑10). Allah mengingatkan kita bahwa orang yang benar memperhatikan hidup hewannya (Ams. 12:10). Kita tidak heran bila pemazmur berkata bahwa manusia dan hewan diselamatkan oleh Tuhan (36:7).

    Manusia yang memiliki imago dei walaupun telah jatuh ke dalam dosa masih mempunyai hak‑hak asasinya. Manusia yang tidak menghargai hak‑hak yang ada padanya dan bertindak tidak sesuai dengan itu, pantas dijuluki dengan “tidak manusiawi”. Bahkan ada yang menyebut manusia “binatang buas” karena tindakannya tidak sesuai dengan HAM. (bd. Tit. 1:5-16). Pada prinsipnya tidak ada yang berhak untuk melarang orang mempraktekkan HAMnya. Selama masih terdapat larangan terhadap pelaksanaan HAM, hal itu perlu dipertanyakan.

    Demikian juga halnya dengan Hak-hak Asasi Anak‑anak. Anak-anak berhak untuk menerima berkat dari Yesus. Orang tua mereka membawa anak‑anaknya kepada Yesus, para murid Yesus melarangnya. Yesus berkata, “Biarkanlah anak‑anak itu, janganlah menghalang‑halangi mereka datang kepada-Ku!” (Mat. 18:14). Injil melarang kita menjadi “penghalang” atau “pelarang” atas HAM.

     Kita tidak mungkin meneliti semua aspek HAM yang terdapat dalam Injil/Alkitab, namun ada baiknya kita mengemukakan beberapa hal. HAM itu dapat kita lihat dari tiga segi. Dari segi HAM Perorangan, HAM Persekutuan (Gemeinschaft), dan HAM secara universal. Di sini tidak dibahas  menurut urutan yang tiga ini, melainkan HAM dalam beberapa hal, juga menyangkut ketiga segi  yang disebutkan di atas. Urutan berikut sama sekali bukan menunjukkan skala prioritasnya.

 

1. HAM untuk Mendapat Makanan

Setiap orang mempunyai hak untuk mendapat makanan yang secukupnya. Tuhan telah mempersiapkan kebutuhan kita. “Makanan yang secukupnya” adalah ukuran minimal bagi setiap orang. Inilah yang diajarkan Yesus dalam “Doa Bapa kami.” Mendapatkan makanan adalah hak manusia, tidak ada yang berhak melarang orang cari makan. Dalam kaitan ini ada baiknya kita perhatikan pertanyaan Paulus yang berikut, “Tidakkah kami mempunyai hak untuk makan dan minum?” (1 Kor. 9:4). Pertanyaan tersebut telah terjawab dengan nas yang menegaskan, “Jangan engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik” (1 Kor. 9:9 yang dikutip dari Ul. 25:4).

Ketika para pengikut Yesus yang beribu-ribu itu tidak sempat menerima “makanan yang secukupnya” itu pada suatu hari, Yesus sendiri menjamu mereka hingga kenyang padahal tidak ada makanan yang tersedia bagi mereka sebenarnya. Bukan pula karena mereka malas bekerja sehingga tidak ada makanannya, tetapi karena situasi setempat mereka tidak mempunyainya (lih. Mat. 14:13-21). Yesus membela para murid-Nya yang “melanggar hukum Taurat” demi makanan sehari-hari yang secukupnya ((Mat. 11:1-8). Pembelaan Yesus mempunyai dasar yang kuat dan mengkaitkannya dengan praktek Daud dan para imam di dalam Bait Allah (1 Sam. 21:1-6). Hal itu dilihat oleh Yesus dari segi pengasihan bukan dari segi hokum/peraturan saja. Memang umat pilihan Allah pun sering mengalami ancaman kelaparan terlebih-lebih dalam “pengalaman padang gurun.” Mereka menerima makanan dari Tuhan. Ingat berita tentang manna, air dari batu, air yang pahit menkjadi manis di Mara, demikian juga pengalaman janda di Sarfat.

Sebaliknya perlu juga kita perhatikan keadaan banyak orang, yang justru berkelebihan dalam makanan sehari-hari, namun tidak dapat mencicipinya karena alasan kesehatan. Apakah mereka masih mempunyai HAM untuk makan? Sebenarnya mereka juga berhak makan. Oleh sebab itu, Doa Bapa Kami dalam permintaan keempat, di mana kita diajar untuk meminta makanan secukupnya setiap hari, dapat juga kita tambahkan pada doa lainnya dengan berkata,

       “Tuhan, berikanlah makanan bagi mereka yang          lapar,   dan lapar bagi mereka yang mempunyai            makanan.”[2]

 

2. Hak untuk Mendapat Pekerjaan dan Upah

    Upah dan pekerjaan adalah dua hal yang tidak terpisahkan karena yang bekerja patut menerima upahnya. Istilah “patut” mempunyai kaitan dengan martabat orang, yang layak menerima haknya. Upah dalam hal itu ialah yang dapat dipergunakan untuk persediaan makanan.  “Masing‑masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri” (1 Kor. 3:8). Kita tidak boleh menahan upah para pekerja. Dalam Yakobus hal itu tegas dilarang. Tuhan turut campur tangan atasnya, “Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka.” (Yak. 5:4; Ul. 24:14). Penundaan pembayaran upah tanpa alasan yang logis bertentangan dengan HAM.

    Satu tantangan juga terhadap HAM ialah pengangguran. Memang perlu kita teliti mengapa ada pengangguran. Apakah karena tidak ada lapangan kerja, , tidak mau bekerja, yang bersangkutan pilih‑pilih pekerjaan? Penyediaan lapangan kerja adalah bagian dalam HAM. Namun, bukan itu yang terpenting, karena manusia itu mempunyai HAM untuk bekerja, biarlah setiap orang menciptakan pekerjaannya, jika lapangan kerja terbatas. Monopoli terhadap sesuatu pekerjaan juga bertentangan dengan HAM. Cara seperti itu dapat membatasi kesempatan kerja bagi orang lain. Akibatnya menimbulkan pengangguran. Manusia yang sadar akan haknya untuk bekerja sebenarnya tidak mengenal istilah ‘menganggur’. Ada saja yang dapat dikerjakan. Mari kita mengutip Luther (Reformator) tentang pekerjaan,

 

“Iman selalu disertai oleh pekerjaan sebagaimana tubuh

          selalu diikuti oleh bayang‑bayangnya.”

 

    Orang percaya adalah “menejer” yang dapat mempekerjakan orang lain. Manusia pertama yang ditempatkan Tuhan di Taman Eden bukan pemalas meskipun segala sesuatu telah tersedia. Mereka dipekerjakan “untuk mengusahakan dan memelihara taman itu,” termasuk “memberi nama kepada segala ternak, kepada burung‑burung di udara dan kepada segala binatang hutan…” (Kej. 2:16.20). Kepada kita masih diberikan tugas untuk memelihara dan mengusahakan semesta alam.

 

3. HAM untuk Mendapat Kesehatan

    Berita penyembuhan dalam Alkitab banyak diberitakan. Memang kesehatan adalah salah satu dari HAM. Dalam 3 Yohanes 2. dikatakan, “Semoga engkau baik‑baik dan sehat‑sehat saja dalam segala sesuatu…” Yesus memulai tugas-Nya di samping mengabarkan Injil dan mengajar adalah menyembuhkan (bnd. Mat. 4:23). Ada yang datang sendirian kepada-Nya, ada yang dibawa oleh orang lain atau keluarga, ada juga yang didatangi oleh Yesus, semuanya disembuhkan. Kesehatan seutuhnya sangat perlu bagi setiap orang dan itu adalah haknya.

 

4. HAM Mendapat Pendidikan

     Setiap manusia berhak untuk menerima pendidikan. Pendidikan memerangi kebodohan. Juga perlu kita pertanya­kan mengenai kedudukan pendidikan agama dewasa ini di sekolah negeri maupun swasta. Pendidikan tidak terlepas dari tanggung jawab Negara, termasuk Gereja. Yesus sendiri adalah Guru yang mengajar di berbagai tempat.

 

5. HAM untuk Beribadat

     HAM untuk beribadat tidak terlepas dari beriman, menerima keselamatan, dan berkat rohani. Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan. Dan Kristus telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia (1 Tim. 2:4‑6). Tepatlah apa yang ditandaskan oleh Bapak Presiden Suharto, “Kebebasan beragama adalah hak manusia yang paling asasi karena itu adalah pemberian Tuhan” (SP. 5 Sept. 1991). Kebebasan beragama yang dimaksudkan hendaklah kita terima secara positip. Kita tidak diganggu oleh siapa pun untuk mengikuti kebaktian. Memang demikianlah hakekat dari Hak‑hak Asasi itu sendiri. Barangsiapa ingin menghambat peribadatan, berarti dia telah merusak HAM.

 

6. HAM untuk Bersekutu

     Memperhatikan Galatia 3:28, di mana tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki‑laki atau perempuan, karena semua adalah satu di dalam Kristus, maka kita melihat adanya HAM untuk bersekutu. Tidak ada batas penghambat antara satu sama lain. Peranan suku, bangsa, bahasa, budaya, jenis kelamin, status, jabatan tidak dapat menghambat hak untuk bersekutu.

 

7. HAM terhadap Kasih Sesama Manusia

    Adalah hak asasi kita untuk mengasihi setiap orang. Inilah inti dari Hukum Tuhan! Penjabarannya malah lebih dari situ. Kita disuruh untuk mengasihi musuh kita sendiri dan berdoa bagi mereka (Mat. 5 44). Pasti ada yang keberatan melihat kita, apabila kita sungguh-sungguh mengasihi musuh, tetapi itu adalah hak kita. Dan perlu kita laksanakan dengan sebaik‑baiknya. Kita dapat membuat pagar pemisah menjadi jembatan penghubung terhadap musuh kita.

 

Penyalahgunaan HAM

     Penyalahgunaan HAM masih sering terjadi. Dalam Alkitab disebutkan adanya beberapa contoh pelanggaran HAM, umpamanya: “Tanpa diadili mereka telah mendera kami di muka umum lalu melemparkan kami ke dalam penjara. Sekarang mereka mau mengeluarkan kami dengan diam‑diam?” (Kis. 16:37). Cara seperti itu telah bertentangan dengan prinsip HAM. Pengadilan an sich tidak salah dan boleh ada, tetapi harus melalui prosedur yang resmi. Pengadilan harus bertindak mempertahankan HAM. Di Filippi sesuai dengan pengalaman Paulus justru sebaliknya. Pengadilan yang resmi belum mengambil tindakan, padahal Paulus telah dimasukkan ke dalam penjara. “Jangan menagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan bagimu” (Luk. 3:13). Setiap orang bertanggung jawab untuk membayar pajak. Dan pemungut cukai mempunyai hak untuk menagihnya. Kesalahan petugas ialah menyimpang dari ketentuan yang berlaku. Cara seperti itu telah merusak HAM.

 

HAM kita juga perlu dijaga, maka kita pun janganlah menjadi pelanggar HAM.

 

 

 

 

 

Kepustakaan

Bauer, W., Woerterbuch zum Neuen Terstament, Berlin 1958

Huber, W./Toedt, H.E., Menschenrechte, Kreuz Verlag,       Stuttgart 1977

Lohff, W./ Knuth, H.C., Schoepfunsglaube und Umweltverantwortung, Luth. Verlagshaus, Hannover     1985

Lorenz, E. (Hrsg), Erkaempft das Menschenrecht, Luth.       Verlagshaus, Hamburg 1981

Moltmann, J., Der Weg Jesu Christi, Chr. Kaiser, Muenchen            1989

Munthe, A., Martin Luther, Riwayat Hidup dan Kata-kata Mutiara, Kolp. GKPS, Pematangsiantar 1983

Toedt, H.E. /Krusche, G., Menschenrechte in theologischer Sicht, Luth. Rundschau, Stuttgart 1977

Zscharnack, Menschenrechte, RGG IV cet. 2, Tuebingen 1913

 

 

 


[1] Ringkasan Ceramah pada Diskusi Pengembangan Wawasan Kristen di Universitas Kristen Indonesia, Jakarta, Sept. 1991.

 

[2] Seorang teolog Jerman mengtatannya dalam bahasa Jerman, “Herr, gib Brot denen, di Hunger haben, und Hunger, di Brot haben.”

Duta Kristus

June 14, 2008

Hello world!

October 11, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!