Ekologi

Pelestarian Alam[1]

 

 

Akhir-akhir ini banyak dibicarakan tentang pelestarian alam, bukan hanya di tingkat internasional, tetapi juga di tingkat local. Hal itu dapat kita pahami karena dampaknya meliputi seluruh negara, benua bahkan seluruh semesta alam. Dampak negatifnya juga tidak mengenal perbedaan ras, suku, bangsa, bahasa, adat, budaya, dan agama. Membicarakan pelestarian alam yang biasa disebut sekarang ini dengan istilah ‘ekologi’ dan ‘lingkungan hidup’ berarti kita membahas kepentingan bersama.

Masalah lingkungan hidup sebenarnya bukan lagi masalah baru karena sejak penciptaan itu telah ada. Sebelum manusia diciptakan Tuhan, segala sesuatu di alam semesta demi keseimbangannya telah disediakan. Daratan dan lautan, siang dan malam, musim kemarau dan musim hujan, tumbuh-tumbuhan dan burung-burung, penghuni daratan dan air/lautan telah diatur sedemikian rupa. Segala sesuatu tidak berdiri sendiri.

Tuhan Allah menyelamatkan manusia dan hewan (Mzr. 36:7). Tanpa tumbuh-tumbuhan hewan pasti punah. Lembu dan keledai musuh pun harus diselamatkan (Kel. 23:4-5). Lembu dan keledai harus diberi cuti (Kel 23:12). Kalau orang menemukan sarang burung yang berisi telur/anak burung, itu harus diselamatkan.

Orang yang berada dalam perang pun tidak dapat menebang pohon-pohonan untuk pertahanan, kecuali pepohonan yang tidak menghasilkan buah (Ul. 20:19-20). Tuhan menyediakan pohon yang menghasilkan buah, yang daunnya tidak layu, menjadikan padang berumput dengan air yang tenang bagi kita (Mzm. 1:3; 23).

Mari kita perhatikan keberadaan manusia, hewan/binatang, tanam-tanaman, hujan, sungai, danau/laut, semuanya mempunyai keterkaitan satu sama lain. Binatang menjadi penyebar bibit tumbuh-tumbuhan, hujan membasahinya, sungai mengalirkan air yang berlebihan ke laut, laut/danau memberikan uap yang akhirnya menjadi hujan. Itulah  teologia keterkaitan. Manusia dijadikan Tuhan selaku pengelola utama untuk ciptaan lainnya, dan harus mempertanggungjawabkannya.

Dalam Perjanjian Lama dianggap bahwa kekeringan, sumur kering merupakan simbol hukuman. Banjir dianggap malapetaka. Oleh sebab itu, manusia harus menjaga lingkungan hidupnya. Sebaliknya air kehidupan dan pohon merupakan berkat (Why. 21:6; 22:2).

Melestarikan lingkungan hidup dapat kita lakukan dengan berbagai cara: Jangan merambah hutan dengan sewena-wena; menanam tumbuh-tumbuhan/pohon sebanyak mungkin. Pepatah kuno Inggris masih relevan, yang mengatakan,

 

      “He who plants trees, loves others beside himself.              Artinya:

      Barangsiapa menanam pepohonan, ia mengasihi orang lain di           samping mengasihi diri sendiri.

 

Sebaiknya supaya ladang yang luas mempunyai beberapa pohon di atasnya, apakah di sudut atau di tengah ladang. Mari kita membuang hobbi menembak burung; jangan membuang sampah yang bukan pada tempatnya; pekarangan/ladang harus bebas plastik; tidak membakar plastik.

Ada baiknya jika pemerintah cq Departemen Lingkungan hidup memberi penghargaan kepada penduduk yang memperhatikan lingkungan hidupnya, yang pekarangannya ikut memberi kenyamanan, biarpun dengan penghargaan yang sederhana. Mereka yang bertugas selaku pegawai pemerintah yang telah memperhatikan pelestarian alam, biar pun tidak menonjol betul dapat juga dihargai. Kami sebut hanya contoh kecil, namun cukup berarti: Jalan Propinsi di daerah Simalungun – dari Tebingtinngi ke Prapat – yang ditanami dengan pepohonan pada masa pemerintahan Bupati JP Silitonga, demikian juga tanam-tanaman/pepohonan di Kodya Siantar pada masa Walikota Zulkifri. Biarpun mereka telah meninggal, tetapi usahanya dalam pelestarian alam perlu dihargai. Hal itu sekaligus mendidik para pejabat yang ada sekarang dan mendatang. Tentu masih banyak contoh yang lain yang dapat kita hargai.

Belum terlambat, pemerintah perlu memperhatikan adanya “hutan kota”. Pelebaran jalan dengan tidak menebang semua pohon yang telah besar. Bila perlu membuat kerja bakti sekali sebulan khusus membersihkan parit di lingkungannya masing-masing. Membuat simbol-simbol pelestarian alam, bila perlu disayembarakan.

Pelajaran tentang ekologi/pelestarian alam sudah selayaknya  dimasukkan dalam kurikulum  sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

Mari kita semua melestarikan lingkungan hidup kita sekaligus demi kepentingan bersama dan alam semesta.



[1] Bahan ini adalah garis-garis besar  Ceramah yang telah disampaikan dalam beberapa lokakarya dan sidang-sidang gerejawi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: