Riwayat Singkat Pdt. Armencius Munthe

foto-pak-munthe.JPGMengikuti perjalanan hidup selama tujuhpuluh (70) tahun Pendeta Dr Armencius Munthe, MTh seperti mengarungi samudera anugerah. Hidupnya sendiri menurut pengakuannya merupakan “Anugrah Tuhan yang Tak Terhingga”. Di usia anak-anak sudah kehilangan bapak karena ditembak militer Belanda. Penderitaan masih terus berlanjut karena harus mengungsi enam bulan di Lingga Tonga, Dairi. Pulang dari pengungsian, hampir dua tahun tidak menginjak sekolah. Sempat terjun ke ladang seperti teman-temannya seusia yang putus sekolah.  “Tiba-tiba ada niat untuk sekolah kembali”, katanya dalam wawancara penulisan buku ini.Kekristenan diperolehnya di luar pengetahuan orang tuanya, sesaat setelah ia menyelesaikan Sekolah Rakyat di Saribudolok. Satu setengah tahun ia menyaksikan dan menikmati kehidupan keluarga Kristen di Pematangsiantar, serta beberapa bacaan tentang kekristenan, mendorong dia untuk memilih sekolah theologia. Akan tetapi, saat mendaftar ke sekolah theologia di Sipoholon,  harapan sudah sirna. Pria kelahiran Pangambatan, 12 Pebruari 1934 ini tidak dapat masuk dalam daftar.  Secara kebetulan, seorang dari dua calon yang sudah ditetapkan GKPS  mengundurkan diri karena tidak berminat masuk sekolah Theologia.  Akhirnya pria yang masa pra-sekolahnya tinggal dengan neneknya ini memperoleh kesempatan untuk mengikuti perkuliahan.  Malah kemudian, masuk dalam lima lulusan terbaik sarjana muda Theologia, Fakultas Theologia Universitas HKBP Nommensen pada 1958.  Ayah empat orang anak ini, pernah berniat menolak ditugaskan melanjutkan sekolah ke sarjana Theologia, tetapi dengan doa Pendeta J Wismar Saragih hatinya luluh. Bahkan akhirnya memperoleh gelar sarjana Theologia.  Lebih dari apa yang pernah dipikirkan sebelumnya, pria yang masih energik di usia 70 tahun ini, selanjutnya memperoleh bea siswa dari Rheinische Missions-Gesellschaft (RMG) untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Theologia Universitas Hamburg.  Sebuah anugerah tentunya.  Hanya dua puluh tahun setelah ia mengenal kekristenan dan berbekal pengalaman yang masih sangat minim dalam kepemimpinan di GKPS, pria yang beristrikan Floriana Tobing ini terpilih menjadi Sekjen GKPS di usia 36 tahun.  Bahkan, pria yang pernah menjadi pengurus berbagai organisasi gereja tingkat dunia ini,  menduduki tampuk pimpinan GKPS selama 25 tahun, seperempat perjalanan sejarah 100 tahun GKPS.Dalam pengakuannya, anugerah Tuhan terus turun atasnya, meski sudah mejadi staf biasa di GKPS. Usai melepaskan jabatan tertinggi di GKPS, pria yang telah penulis buku “Firman Hidup 45” ini malah memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dari Academy of Ecumenical Indian Theology, sebuah lembaga pendidikan di Chennai, India yang telah memberikan penghargaan Doktor Honoris Causa kepada beberapa tokoh gereja dunia.  Pidato pengukuhan doctor honoris causa yang disampaikan berjudul “Anugrah Tuhan Yang Tidak Terhingga”.  Pria yang selalu tampak ceria ini mengaku bahwa isi pidato itu sebenarnya adalah jalan hidupnya yang disajikan berdasarkan Efesus 3:20. Judul pidato tersebut akhirnya kami jadikan sebagai judul buku ini yang  menurut kami dapat merangkum keseluruhan pengalaman beliau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: